Discover Me #3 Makna dari Pemaknaan
Jakarta, Selasa 28 Agustus 2018
11.36 PM
Diatas meja coklat corak sobekan kecil
Dibawah Langit Asrama
Disebelah kiri tepat Suara Kipas menyentil
Disebalah kanan, Javas dengan leluasa ibu jari bekerja
alhamdulilah masih bisa diberikan kesempatan untuk bisa menulis sesuatu di blog pribadi ini. tidak ada tulisa khusus yang berarti, yang memang kuniatkan untuk mengisi ruang kosong di blog ini. hanya, sebuah tuntutan yang bermakna sederhana untuk melepas tugas sementara. langsung saja ya di lihat dibawah ini ya ::)
11.36 PM
Diatas meja coklat corak sobekan kecil
Dibawah Langit Asrama
Disebelah kiri tepat Suara Kipas menyentil
Disebalah kanan, Javas dengan leluasa ibu jari bekerja
alhamdulilah masih bisa diberikan kesempatan untuk bisa menulis sesuatu di blog pribadi ini. tidak ada tulisa khusus yang berarti, yang memang kuniatkan untuk mengisi ruang kosong di blog ini. hanya, sebuah tuntutan yang bermakna sederhana untuk melepas tugas sementara. langsung saja ya di lihat dibawah ini ya ::)
Oleh:
Umar Hamzah
Sebulan sudah kami memasuki asrama dan secara resmi
menjadi peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan 9 Regional 1 Jakarta setelah
mengikuti acara National Leadership Camp 2018 tepatnya pada tanggal 28 Juli
2018. Sebuah acara/moment seluruh peserta Rumah Kepemimpinan dari semua
Regional bertemu, berkumpul, sebagai langkah awal untuk melakukan kolaborasi
bersama kedepanya. Ada sesuatu yang sangat bermakna bagi saya maupun
teman-teman lainya dari rangkaian acara NLC ini. Khusus dalam acara puncak NLC
setiap regional diwajibkan untuk mempersembahkan suatu penampilan yang nantinya
akan di nilai oleh para Juri yang tiada lain salah satu jurinya adalah Bang
Bachtiar Firdaus Selaku Direktur Pusat RK.
Memang setiap tahun nya Haflah dalam acara NLC menjadi sesuatu momen bergengsi dan ajang
merperlihatkan keunggulan dari setiap regional masing-masing. Tapi sayangnya,
entah untuk kesekian kalinya regional ku tidak di takdirkan untuk menang tahun
ini juga dan merebut juara dari pertahana regional UGM. Tapi itu tidaklah
sertamerta membuat kami menjadi putus asa, kecewa sedikit pasti ada , tapi
disamping itu ada sesuatu pemaknaan yang jauh lebih besar yang saya dan kami
semua dapat selama proses persiapan NLC
tersebut.
Kurang lebih sebulan kami mempersiapkan segala hal
untuk Haflah di NLC , dari proses itu kami semua menjadi bisa saling mengenal
satu sama lain, mencoba saling memahami satu sama lain, dan terlebih
bersama-sama membangun suasana sebagai satu keluarga sejati dibawah Rumah
Kepemimpinan. Kekalahan dihaflah seolah hanya seperti angina lalu yang tidak
memberikan pengaruh apapun kepada kami. Setelah itu pun kami kembali
berloncatan, dan salingkul merangkul sesama ksatria maupun tiara karena kami
merasakan sekali bagaimana rasa persaudaraan kami terbentuk dan dan terbangun
selama proses tersebut.
Memasuki bulan
Agustus mengartikan bahwa telah resmi lah juga kami memasuki masa pembinaan
selama 22 bulan kedepan nantinya. Dengan berbagai system dan aturan yang ada
kami mencoba untuk beradaptasi, terlebih untuku yang sebelumnya belum pernah
merasakan hidup semacam asrama ini harus berusaha beradaptasi lebih keras lagi.
Pembinaan awal pun dimulai, sering dibilang bahwa masa
masa ini adalah masa dimana kami semua peserta RK angkatan 9 regional 1 jakarta
dicoba untuk penginternalisasian nilai nilai yang dibawa oleh RK yaitu ROOM-PK
dan pembiasaan atas segala hal yang akan rutin kami lakukan selama masa
pembinaan 22 bulan kedepan nanti, sepeti; Qiyamul Lail, shalat subuh berjamaah,
waktu berkah subuh, dan apel.
Tetapi dari semua proses yang saya jalani
selama satu bulan ini pemaknaaan yang saya selalu teringat adalah persis
seperti apa yang dibilang Bang Fathan Mubina, bahwa semua kita lakukan bebrapa
bulan masa internalisasi ini adalah bukan hanya sekedar kegiatan tapi ini
melatih kita untuk bisa belajar cara menghargai sebuah system, waktu, dan
manusia. Karena selama 22 bulan kedepan jika kita tidak bisa mengikuti
pembelajaran tersesbut berkemuningkinan besar kita tidak bisa bertahan lama
dengan proses pembinaan ini.
Menghargai sebuah
system adalah sesuatu yang penting bagi kami karena disamping berguna bgi kami
dalam menjalani proses pembinaan ini karena memang hampir semua hal yang saya
dan kami lakukan disini memiliki system yang berbeda dan harus di ikuti serta
ditaati oleh semua peserta. selain itu, didunia luar kampus merhargai system
juga mengajarkan kami untuk belajar dengan berbagai peraturan yang ada diluar ,
seperti system perkuliahan, system organiasasi dan berbagai system kehiduapan
lainya.
Kedua, menghargai Waktu. System berkaita erat dengan
waktu karena system dapat berjalan dengan baik jika kita menjalankan waktu yang
telah disedia dan diatur. Menghargai waktu merupakan pemaknaan yang paling
berkesan bagi saya selama 1 bulan ini di rumah kepemimpinan karena berdasarkan
pengalaman saya sendiri , dahulu saya adalah orang yang tukang ngaret suka
sekali ngaret , saking keseringan ngaret(telat) sehoingga menciptakan stigma
negative dari temen2 kepada saya. Saya dipandang sebelah mata karena itu sifat
buruk saya yang satu itu. dari dulu pun saya mau merubah sifat itu tapi hanya
seputar wacana dan ego saya selalu menang akan itu. tetapi dengan masuk nya
saya ke RK dengan berbagai peraturan dan system yang mengharuskan kita zero
mistakes salah satunya tidak diperbolehkan telat jika tidak mendesak dan harus
selalu mengusahaka tepat waktu dalam menghadiri agenda apapun. Dari situ saya
pun jadi tersadar dan terdorong untuk merubah kebiasaan buruk saya yang satu
itu di tambah kondisi lingkungan dan system yang mendukung serta akhirnya saya
merasakan sendiri saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Ketiga, menghargai
orang sekitar/manusia. Hidup diasrama jauhlah seperti kita hidup dirumah.
Diasrama kita hidup scara bersama,, dari mulai kegiatan yang kecil sampai ke
hal yang besar. Pada dasarnya manusia meurpakan mahluk sosisal yang memiliki
pemikiran dan kepribadian yang berbeda, tetapi selama sebulan ini kami
diajarkan bagaimana cara untuk menghargai sesame dan saling melengkapi
kekurangna yang ada sebagai satu keluar di bawawh satu naungan. Selama 1 bulan
proses asrama ini saya dan kami semua juga belajar bhawa perlu kebiasaaan dan
keberanian yang lebih untuk menjadi pribadi yang dapat saling menghargai satu
sama lain. Hidup bersama bukan berart kami harus menjadi sama, tapi bagaimana
cara nya kami bisa menutupi dan melengkapi kekurangan antar sesame.
Mungkin itu saja
pemaknaan yang dapat saya gambarkan dari kurang lebih sebulan masa kami
pembinaan dirumah. Semoga kedepan nya semakin banyak pemaknaan yang dapat
membuatku berkesan dan banyak belajar agar bisa mnejadi peribadi yang lebih
baik lagi.


Comments
Post a Comment